12/22/2009 10:30:00 AM | Posted in

[PART 3 : Mata]

Lanjut ah dari notes sebelumnya, mumpung masih kuat ngetik, menjelang sarapan, hehe.. Kisah seru di mata juga ga kalah dengan di Gimul dan THT.. Dan hari mengetik saya ini adalah sehari setelah judisium Mata.. Hari setelah foto2 studio grup kami.. Hari setelah sport jantung ujian kedua kalinya.. Dan mulai hari ini, sy ga dipanggil lagi "hei aci, anak cicendo" tiap pagi ama orang2 rumah.. okeh,yuuk mulai..


Penyambutan di Mata lebih manusiawi daripada di THT (err,, maksudnya terasa lebih berdedikasi dan senang menerima kami).. ada papa nya Grim (baru pertama kali lihat, dan kesannya : ga begitu mirip si grim, hehe piss ah grim.. :p). According to aci (aci yang asli), isi sambutannya dr.Iwan ga beda jauh dengan grup dia sebelumnya.. intinya : RSMC, rumah sakit mata cicendo, adalah RS pusat khusus Mata tipe A sekaligus RS pendidikan di Indonesia. RSMC juga merupakan pusat mata nasional (promosi nih, baru dapet dari SK Menkes) dan kami diwejangi untuk mengambil ilmu dan pengalaman dari sini sebanyak-banyaknya..

Warning!!!!! Pending sebentar.. saya nyerah, saya kelaparan,, mau makan dulu yah yah yah...
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------------------------------
-------------------------------------------------------
--------------------------------
-------------
--

Yak puas makan (setelah susah ngebujuk aci, sang peneror menu makan sayah, untuk merestui makan mie goreng),, saya lanjut nulis nih..
Kami sudah harus daftar sebelum hari pertama masuk koas di stase Mata.. Untuk apa? tentu saja untuk finger print, cara absensi terbaru yang pernah saya alami.. Pak Bagus yang melayani saat itu.. Kode absen saya serupa dengan angka kapaknya dan tato (palsu) di dada wiro sableng : 212.. Wuidiii..!! Puas bila lampu mesin berubah warna jadi hijau dan berbunyi piiipp satu kali, tanda absen diterima lalu tercetak jam absen, dan kami mulai kesal apabila lampu tuh mesin berwarna merah dan berbunyi piiiipp dua kali, tanda tdk bisa mendeteksi sidik jari kami.. Kunci : posisi harus tepat dan terutama,, jari harus BENAR, hehe... Malangnya, diantara kami berduabelas, hanya Dya yang tidak bisa menikmati teknologi finger print ini, soalnya dia hyperhydrosis.. Satu-satunya kontraindikasi pemakaian mesin ini, hehe.. Saya baru tahu, ternyata hyperhidrosisnya dya bahkan bisa sampai menetes.. Ckckck...

Hari pertama di Mata adalah penyambutan dan orientasi RS.. diajaklah kami keliling2 untuk melihat 10 poli yang akan rutin kami kunjungi setiap hari tanpa pengawasan (jadi alih kata,kami akan datang bila sempat dan bila kami mau -ciri2 orang2 malas ini,hehe-). Pembagian kelompok juga diumumkan.. Dan ternyata saya menjadi WNA di kelompok, soalnya cuma saya yg dari Indo, 5orang sisanya dari Malay.. Akhirnya, karena sy orang yang mudah beradaptasi dan cenderung terbawa arus pergaulan, jadilah logat saya mulai berbau Melayu saat mengisi waktu bersama mereka.. kadang harus korek kuping dulu pabila ada cakap yang kurang saya tangkap, hehe... Tapi, seru sekali lho bersama Melayuers itu.. Imbasnya, saya jadi suka nonton ipin dan upin (ini mah tontonan idolanya orang2 rumah, sy cm ikut2an..hehe...)
Mulai hari ke-2 barulah kami bersenang2 bimbingan dengan preceptor dan LO..
ini dia yang saya suka : preseptor dan LO saya, comel2 kaliii dan baik hati pula.. kayak barbie.. ^^ Bimbingan selalu santai, menyenangkan dan ilmu yang didapat juga tidak sedikit.. Nah, karena ga diteror seperti di THT, makanya saya berasa nyaman di Mata, walaupun pelajarannya ga kalah banyaknya, tp cepet nyangkutnya di otak, lagi2 saya tidak tahu alasannya kenapa, hehe.. Yang pasti 3 minggu di Mata terasa sebentar bagi saya.. Adit aja baru menyadari di minggu2 terakhir, setelah ujian mini cex, kalau dia udah betah di Mata dan baru mau belajar lebih banyak.. (aahh, lambat kamu dek!!)
Jadi,, ribuan terimakasih untuk perhatian dan dedikasi Irawati Irfani, dr., Sp.M., M.Kes dan Emmy, dr.

Ternyata stase mata mengambil korban dari kami2 yang koas disini.. Pertama, ada musibah kecil yang menimpa kahmini.. Matanya trauma sehabis jatuh dari tangga dan akhirnya dirawat di cicendo (ironis), cuma sehari izin, tapi kami sempat mengunjunginya di ruangan kelas 1.. Matanya mengalami pendarahan dan harus diperban.. Di hari terakhir stase, kami bisa melihat sinekia posterior (irisnya menempel ke lensa) jadi pupilnya tidak bulat regular, tampaknya kahmini tidak rutin dalam pemakaian obat tetesnya.. cepet sembuh yaa kahmi!! Nah pasien ke dua adalah putnad, 22 tahun, status (diakui) belum menikah, dengan diagnosa lama makular hole nya, sejak 1 tahun lalu, hehe.. Akhirnya saya menemani putnad di retina (selagi menunggu, saya sekalian membajak playlist mp3 di komputer ruangan itu yang lagunya bagus2, mumpung sempat, hehe..), terus diperiksa pakai OCT (ocular coherence tomography) seperti CT scan, yang per mata nya bisa bayar 4ratus ribu.. Tapi karena dokter arifin meminta khusus pada dokter aci (aci nya beda dengan yang tinggal dirumah saya ya!), akhirnya putnad ga bayar, senangnyaaa.. Ternyata diagnosis akhir, putnad mengalami retinal dettachment (okeh, selanjutnya hati2 aja ya put, hehe..)

RSMC.. gedung yang berbeda, nama yang berbeda, dan otomatis beda lokasi dengan RSHS.. Terpisah dengan rekan2 koas lain, tapi saya lebih senang di sini.. Bakal kangen ama bala-bala dan pisang aromanya ibu Atun (sang penjaga perpus) yang kami sering rebutan ama residen2.. Pernah, sekali waktu itu sudah kami habiskan sebelum residen pada dateng, ehehehe... Lagian sih si ibu, bukan bawanya sekuali ajah, pasti laku deeh kalo ama kita-kita.. :D Terus ada warteg murah dan enak di samping gedung RS (selalu pesan 1 : capcay, dendeng, dan kerupuk atau 2 : jamur tahu, kentang pedas, dan kerupuk.. Menu pilihan saya yang tidak pernah berubah, hehe..) Datang ke warteg selalu rombongan ky arak-arakan partai.. Nah, selain itu sy kami suka beli eskrim tanpa merek.. walaupun tidak bermerek dan terlihat jelas buatan sendiri, tapi lumayan enak.. minimalis, harganya cukup maksimalis (mengingat tuh eskrim tanpa merek).. nah, kalau ditanya beli dimana oleh adit, wani selalu menjawab : di toko! ehehehe.. Kemudian, kami pun sering ke toko itu buat beli eskrim dan fotokopi bahan2 sekalian.. Trus trus, ada lagi nih, BreadPoint! roti-terpaksa-beli yang dijual di dalam dan di luar tak jauh dari gedung RS.. harganya tak sebanding dengan efek kenyangnya.. tapi teteup ajah di beli asal masih bisa mengganjal perut, terutama kalau bala-bala dan pisang aromanya habis diserbu residen.. Selain itu, ada gulai sate dan daging, yang sebenarnya hanya kami cicipi pada hari pertama masuk sih.. Nah loh, ini malah ngomongin makanan yoo??!! Xp

Sekali waktu kelompok saya diajak ke OK, seru! sayang ga sempat foto2, hehe.. Banyak ilmu yang kami bisa dapat dan melihat prosedur operasi di sana.. tidak seperti di THT, kalau di Mata, kami diantar dan diberi petunjuk terlebih dahulu, baju OK pun disediakan.. Dan kami tidak ditelantarkan disana, dijelaskan ttg seluk beluk operasinya oleh para dokter.. Banyak operasi yang dilakukan disana saat itu, ada operasi eksisi dan grafting pterigium, ada SICE katarak, faco katarak, penjahitan kornea akibat trauma, vitrektomi, dan kami boleh masuk sesuka hati, hehe.. Kesan saya : ternyata operasi katarak (versi facoemulsifikasi yang paling digemari) secepat dan semudah nyunat, tapi tanpa teriakan, jahitan, pendarahan dan air mata (malah air matanya ditambah, biar ga kering, hee..). Variatif sih, tergantung operasi versi apa yang dipakai sesuai dengan indikasinya..

Hmm.. entah kenapa, bagian Mata menjadi salah satu pertimbangan saya untuk mengambil spesialis nanti.. Okeh, impiannya ditabung dulu kalau begitu.. Saya mau icip2 bagian lain dulu.. :D Beda sih dengan azlan yang awalnya ingin ambil spesialis mata, jadi urung niatnya, karena dia menyadari dokter perempuannya lebih banyak daripada yang laki-laki, hehe...

Ujian di mata, sempat terkatung2 nunggu on-call, tapi alhamdulillah lancar, selancar orang tanpa sembelit dan dapet jackpot kasus yang menyenangkan (untuk saya) sekaligus membosankan (barangkali, untuk si penguji).. mini cex dapat kasus pterigium dan soca dapat kasus miopi.. Sekeluarnya dari ruangan, terkekeh-kekeh sendiri sambil mengayunkan tinju ke udara.. :D Lega banget, sampai akhirnya sy baru teringat kekurangan2 yang terlewat disebutkan saat soca, ah tapi whatever deh, udah lewat.. Dan siangnya adalah pengumuman judisium, alhamdulillah semua lulus.. :'D
Sebelum pulang, kelompok saya foto2 dengan dokter emmy, panas2an di lapangan, di depan tulisan R.S.M.C yang gede-gede itu, sekali jepret (okeh dok, nanti saya tag dokter :D).. Tapi kami ga sempat foto2 dengan dokter ira karena beliau sedang sidang tesis dan kami keburu pulang duluan sehabis judisium.. Wah wah, sayang sekali ga dapet foto dokter barbie.. Keluar dari Mata, saya membawa souvenir : resep kacamata untuk miopi saya dari dokter emmy, ehehehe... Nanti beli kacamata baru aaahh!! :D

Dan akhirnya kebersamaan kelompok kami ditutup dengan sesi foto studio di Jonas.. Soalnya di stase berikutnya belum tentu kami bisa bareng lagi.. Jadi kalo ada yang tanya (dokter Emmy, tepatnya), "habis ini kalian mau kemana?" Jawab kami, "ke IP (Istana Plaza)", bukannya ke stase bedah, hehe.. Sehabis foto, sempat terjadi pergumulan saat pemilihan foto yang akan dicetak (si aji yang protes saat gayanya beda sendiri ("totalitas banget dah senyum 3 jari nya!") dengan yang lain, padahal foto itu oke banget lho ji, heheheh..)

Sekali lagi biar ga lupa, kelompok saya di Mata : sy, ily, nadia, wani, dya, azlan..
Nak kate trimekasii tuk kerjasamenya selame nii.. :D

Begitulah sepenggal kisah saat saya stase di bagian Mata.. Bagian Mata merupakan stase kecil, organnya pun yang kecil,, tapi tanpa anugerah mata, kita bukanlah apa-apa.. So, why don't you open your eyes widely to see and to learn?? Kami semua pastinya berharap, semoga selama 8 minggu ini di stase2 kecil, ilmu yang diserap dapat mengisi ruang2 sempit otak kami yang berisi memori dan akan terus mengendap tanpa karat supaya dapat memberikan manfaat besar sebagai bekal kami, para calon dokter, untuk mengabdi pada keluarga dan masyarakat.. Amiiiieenn,,,

NEXT DESTINATION : SURGERY... Em koming.. :'D

anQ_me!

Lanjut membaca “STASE CLING-CLING *u*”  »»
Category:
¡¡
12/22/2009 10:13:00 AM | Posted in

[PART 2 : THT]

Huft.. lagi ga pingin nulis,, tapi akhirnya nulis juga ding.. Nah sekarang, diiringi instrumental Winter Sonata (humm, calming...) saya mau cerita tentang..umm, apa ya? ohiya.. masa2 yang dihabiskan dalam stase mata yang menyenangkan.. Tapi sebelumnya cerita singkat dari THT didahulukan dulu deh, bisi hilap..

Udah berapa lama yah saya meninggalkan THT?? (itung..itung..) yah kira2 6 minggu yang lalu deh.. Gini nih kalo lagi ga mood nulis, dilalaikan terus dari dulu, akhirnya sekarang nyaris lupa mau cerita apa, hehe.. Tapi kesan saya adalah : serasa diburu waktu tapi berasa paling lamaaaaa... Kenapa? soalnya bagian Gimul dan Mata terasa singkat. [Yaeealah gimul singkat, wong cuma 2 minggu.. sedangkan Mata berasa sebentar karena.... nah, nanti detailnya diceritain].. Selain alasan di atas, ilmu di THT susah nyangkut di otak saya, dan saya lupa alasannya kenapa, hehe.. jadi harus extra belajar dalam waktu yang sempit.. di THT kata orang2 adalah bagian paling ga jelas.. (kalo boleh saya tambahkan, ujiannya pun ga jelas) Tapi ga juga sih kalo kita udah berpengalaman dengan kolaborasi antara tenggelamnya rasa malu dan timbulnya rasa ingin tahu.. harus rajin? oow, tentu sahaja.. kl ga kita duluan, mana mau para residen (khususnya) repot2 ngajarin? dan itu berlangsung hampir nyaris selama 8 hari dari 14 hari yang tersedia.. Kok bisa selama itu? yah, soalnya kelompok saya baru dapet stase poli pada 3 hari terakhir belajar dan baru akhir2 itu yang seru dan berasa deketnya dengan residen, soalnya udah ga jaim2 lagi..

Putaran pertama : Ruangan RC III.. Kesan : banyak nyampah, nyalin status, dan masih odong-odong.. Sedikit senang karena bersama dokter Aso yang baik hati.. Saat visite, beliau memaparkan secara singkat mengenai kondisi para pasien kepada kami.. Ada sekitar 20an pasien yang dirawat, dan beliau hapal kondisi mereka.. Satu hal yang saya senangi adalah saya diberi kesempatan kempis balon pada satu pasien (haha.. gitu aja kok dibanggain,, emm, tapi, kesan dan tindakan pertama selalu berbeda,, seperti halnya spade dan jarum suntik pertama yang saya tusukkan di pantat seorang kakek, masih saya simpan beserta bungkusnya di mading ungu kamar saya.. [semua yg ngeliat protes : iiihh udah ga steril! saya cuma cengar cengir ajah, hoho] :'p ) lalu lalu, di ruangan kebanyakan cuma ngobrol, baca buku, latihan skill pake THT kit (dan saya diunggulkan untuk menjadi korbannya-latihan rhinoskopi posterior- Gw bertahan untuk ga muntah tuuh kawan2!!) senangnya, di sini bisa ngeliat secara langsung kondisi para pasien yang cukup mengenaskan, yang membuat saya menjadi amaaat bersyukur diberikan kesehatan sampai sekarang.. Tempat RC III itu kurang nyaman, maklumlah buat mereka yang kurang mampu.. Tapi pelayanan kesehatan yang diusahakan tidak dengan separuh hati kok.. :')

Putaran ke dua : OK (ruang operasi).. Kesan : LEBIH banyak nyampah, pegel2, dan sempet nyimpen BB nya dokter nur akbar,hehe.. Paling singkat 3 jam, paling lama 5 jam harus berdiri nungguin operasi selesai.. tapi toh akhirnya tewas dengan bersandar dan duduk di lantai disela-sela waktu2 operasi, malah sempet tidur, wkwkwk... Tapi cukup banyak yang bisa didapat disini.. Operasi secara langsung, seperti pemotongan, penyayatan, pengeboran, penjahitan, dan lain2 pada mereka yang sadar maupun tidak sadar tergolek di atas meja operasi bisa saya perhatikan baik2.. semburan darah? biasa.. (yang tidak biasa saat semburannya secara jitu tepat menghantam di tembok sekitar 1 meter di atas kepala saya) Erangan dan hentakan saat pasien ditrakeostomi? lumrah.. Terpana melihat tiroid sebesar kepalan orang dewasa, gerombolan polip hidung, rusaknya atrum mastoid, dan sebagainya.. Seru sekali, cuma yah itu, karena saya tidak terbiasa upacara bendera lebih dari 2 jam, ataupun bertahan menemani mama belanja belanji (tp, kan kasihan kalau ga ditemani), alhasil : Lumbar ku yang paling bermasalah!!

Putaran ke tiga : Poli!! ini nih.. waktu2 menjelang ujian, dan lebih banyak teror dan tekanan.. sebenarnya tekanannya udah dari awal masuk sih.. Kok berasa buanyak banget bahan yang harus dibaca, mana ditambah preceptor yang maunya perfect! Ada beberapa ruangan yang bisa dikunjungi : 1.Poli umum. Nah, ini lebih mengasyikkan, ambil pelajaran sebanyak2nya dari pasien yang bisa kita kerjain (intervensi-red).. Latihan anamnesis dan PE.. Kadang dikasih ama residen (dokter Yanuar :D) untuk periksa pasien, yang setelah 5menit kemudian, beliau datang dan mengomentari "hah? baru di anamnesis? belom di otoskopi dari tadi? ckck.." Saya dan adit cuma senyum2 :'p Terus bereng dokter Yanuar, qt ke ruang transilluminasi buat periksa sinus.. hoho, gelap2an di ruang sempit.. Dan yang paling saya senangi, saya diberi kesempatan oleh dokter Oji untuk spulling alias membersihkan kotoran telinga (spulling aja deh ya bilangnya biar kedengeran keren dan bukan seperti petugas pembersih kotoran :p) beuh, ga usah ditanya bau dan penampakan kotorannya.. ada yang jamur, ada juga kotoran telinga mengeras spt lempeng atau batu.. iuwh! Sehabis bersihin, saya meniatkan dengan sangat untuk mencuci jas koas saya setelahnya.. Uhm, tapi saya bangga bisa spulling! Temen2 lain ga sempet melakukan.. (si adit aja bangga cuma ngelepas tampon hidung sepanjang 10cm doang! gw ngakak..) Sering juga diskusi dan sharing dengan dokter purwadi, yang tanda tangannya paling banyak mengisi daftar kasus yang saya pantau di poli, yg ikut militer juga, seru sambil dengar pengalamannya PTT di ambon yang tampak menyenangkan.. Terus ada dokter widi yang suka ngetes pengetahuan kami (dokter Yanuar dan dokter Ade juga sih) dan menertawakannya kl kami ga tau, tapi orangnya kocak banget.. Selain itu, 2. Rhino & Alergi. Di sini kami lihat SPT (skin prick test) dan saya mupeng pingin tau sy alergi apa yg buat saya bersin2 terus (banyak yg ngomongin kayaknya, hehe..) tapi mahal dan ga digratisin buat koas. Kt dokter Yan boleh, tapi pake yang bekas pakai (pundung ah saya, dok! Xp) Selanjutnya, 3. Ruang Tindakan NPC (nasopharyngoscopy) melalui layar monitor, lihatlah isi hidung sampai nasofaring yang berdarah-darah.. Ada kejadian seru di ruangan ini saat hari pertama saya masuk THT (bodoh sekalii!!) sy baru pertama kali mengalami "black-out" yg dari gejalanya sepertinya gara2 hipotensi (heh, masa gw hipotensi??!!). Selama sekitar 10 detik pandangan sy hitam, ga bisa lihat apa2 diawali dengan melihat percikan bintang kristal putih.. Akhirnya saya cuma bisa duduk, keringat dingin, dan pucat banget (kata putnad yg khawatir dan langsung papah saya ke ruko dan memoto muka pucat gw, hee bukti otentik). Dan keselnya, saya jadi terkesan rapuh, aga diketawain sama dokter di sana.. Huh! saya tidak rapuh!! Tapi baru istirahat 10 menit di ruko, sy udah fit lagi.. Jadi keliling2 poli lagi deh.. :D Terus, 4. Otologi. Gitu-gitu wae, kadang kesana kalau ada tindakan, seperti pengeluaran isi perikondritis waktu itu.. terakhir, 5. Audiologi. Sempet diajarin dokter Meil ttg hearing loss dan audiogram, wlpn awalnya jutex.. Trus ada dokter sally, yang cantik, dan sempat menawarkan kami untuk ikut penyuluhan di daerah.. Tp sy jarang kesini, walau tempatnya bagus dan nyaman.. Pokoknya selama di poli, lebih banyak senyum2 kyk orang sinting, soalnya hampir tiap waktu papasan sama dokter2 dan ketawa2 kl lagi pada bercanda ama residen2.. Residennya banyak, tapi kami hapal nama mereka semua (kami meragukan mereka hapal nama kami semua) dan sering berinteraksi.. Itu enaknya di THT! Kl di Gimul ga ada residen, kl di Mata cuma dekat dengan LO aja..

Selang waktu, di THT ada tugas jaga juga.. Maksimal mpe jam 9 sih, tapi bahkan seringnya jam 6 atau 7 udah boleh disuruh pulang ama residen.. Syahdan, pertama kali jaga, sy dan putnad semangat sekali untuk lihat trakeostomi sampai bela2 in pulang jam 1/2 10 malem. sebenernya kami nungguin on-call nya dokter Jipie sih, yang katanya persiapan pasiennya belom beres2 kala itu. Nunggunya aj yang lama, operasinya cuma 20menit, huft! Terus bareng dokter Yan juga, hehe.. tapi akhirnya kami (putnad, tepatnya) dibantai dengan Signet ring nya dokter Yan, saat putnad awalnya bertanya seputar tentang letak insisi trakeostomi.. Bolelah malu tapi belajar.. ada kejadian juga saat jaga, seorang anak kecil kemasukan UFO (benda asing-red) di hidungnya.. Butuh kekuatan kuli 5 pasang tangan koas buat megangin tuh anak biar ga berontak, walaupun udah pakai selimut iket, hehe parah! hmm, dan di THT bisa banyak waktu yang bisa kami habiskan bersama residen, kebersamaannya juga okeh.. Beda dengan Gimul (yang residennya sama sekali takada) dan Mata (paling cuma dekat dengan LO aja)..

Preseptor kami, Lina Lasminingrum,dr., M.Kes., Sp.THT-KL (harus hapal gelar yah! mahal!), adalah seorang wanita muda cantik, segar, agak tomboi, perfeksionis yang selalu mencak-mencak frustrasi nyuruh kami ini itu.. Mau ketemu beliau ajah takutnya ampun grogi. Mau bimbingan udah kayak ujian.. Mekanismenya on-call, tau2 kita disuruh kumpul ajah gitu.. But, she's funny, i think.. Saya selalu terpana dengan gayanya, asik berjiwa muda, brillian.. :D Sebenernya orangnya baik kok, walaupun meneriaki kami "ini ga cerdas banget deh.. ga cerdas!!" saat pintu ruko dibukanya (sebelumnya dalam keadaan tertutup), padahal kami didalamnya menunggu bimbingan sang dokter disana.. "Udah tau ada bimbingan disini, kenapa pintunya ditutup?? coba! kalo saya ga peduli, saya ga akan nge-cek ke dalem.. Gimana sih ini?? Adit?? Angita??" Selanjutnya, selama 5menit mempermasalahkan pintu.. Dan kembali,, saya kembali terpana.. :') Lalu, lagi,, saat kami akan ujian tulis dadakan, beliau sempat mengunjungi kami di ruang sidang, dan mengomentari "kalian ada ujian hari ini? emang bisa??" waduuh! ngejleb! ehehe, habisnya sehari sebelumnya kami kena bantai beliau saat bimbingan "saya pikir udah minggu ke 3 disini kalian udah ahli! huff!" tambahnya pedih.. Walaupun begitu, pada akhir stase kami di THT, kami dengan senang hati mengabadikan untuk berfoto bersama beliau.. Pada cengengesan semuah, hehe.. Seru yang menggigit lah pokoknya! Makasih dok! :D
Terus buat LO kami juga, dokter Eka, walaupun baru sering ketemu nya di hari2 menjelang ujian, tapi sempat ngasih kisi-kisi ke kami,hehe..
[ohya, tambahan berita duka : saya baru menerima kabar bahwa hari senin minggu lalu, orang tuanya (entah ayah atau ibunya) dokter Lina meninggal dunia.. Kami turut berduka dan mendoakan yang terbaik bagi almarhum.. :'(]

Begitulah cerita singkat yang tiap harinya selalu berkesan bagi saya, pokoknya ada ajah hal-hal kecil yang selalu membuat warna,, dengan teman2 yang asik disini (semuah) dan saling nge-annoying (adit doang-red, piss ah! Xp),,
Biar ga lupa, sy tulis ah kelompok preseptornya : sy, adit, putnad, dya, azlan, kahmini
Kelompok jaga : sy, putnad, aji, nadia, ily, kahmini
Thx to all for working and enjoying together.. :D

anQ_me!

Lanjut membaca “STASE SEGER.. SEGER.. :D”  »»
Category:
¡¡
11/07/2009 04:12:00 PM | Posted in

[PART 1 : GIMUL]

Judul diatas amat menggambarkan keadaan saya saat ini : berakhir sudah putaran sebagai dokter muda di bagian gigi mulut, tapi masih ada bagian-bagian lain menanti di penghujung minggu depan (THT, bersiap!!).

Jadi begini kawan, hari ini, dimulai jam 8 pagi, kami ber-dua-belas mengikuti mini lecture di ruang serba guna poli klinik gigi dan mulut RSHS Bandung (sebenarnya saya heran sekali, kenapa masih ada mini lecture setelah ujian-ujian itu berakhir). Jadi,setelah 2 jam perkuliahan kecil itu, kami ber-dua-belas mempersiapkan diri menunggu judicium, deg-deg-an (baguslah, tanda kehidupan vital masih berlangsung!). Alhasil,alhamdulillah kami ber-dua-belas lulus semua dengan nilai yang bervariasi, tapi belum semua nilai diakumulasikan dengan nilai tata tertib, attitude, CST, dan sebagainya, dan detail nilai baru akan bisa kami ber-dua-belas lihat hari senin nanti di MIR (setelah di survey hari seninnya, ternyata hanya dusta, huh!).
Namun, ada satu fenomena di sini yang saya perhatikan, bahwa para preceptor sedikit kecewa dengan nilai tulis kami bila dibandingkan dengan kelompok sebelumnya, yaitu dari angkatan 2004 (ah, kelompok yang sekarang terlalu.. harusnya malu.. hehe..). Ceritanya, yang sekarang ada penurunan, paling tinggi hanya sampai 86,5 (congrat for Aji!) padahal sebelum kami ada yang sampai 90-an. Memang, patut disayangkan. Hmm, sebenarnya kalau dipikir-pikir, kami ber-dua-belas ini kan baru pertama kali masuk bagian dan kami hanya punya sedikit pengetahuan tentang segala sesuatu yang berlangsung selama belajar kurang dari 2 minggu ini (waktu yang singkat,eh?). Mengingat ini adalah ujian pada ronde pertama sebagai dokter muda di RSHS dan hasilnya secara umum dapat dibilang kurang memuaskan, padahal kami tahu, kami bisa lebih dari itu. Sebenarnya (menurut hemat saya), alasan-alasan tersebut di atas tidak kuat untuk tetap dipertahankan, karena pada kenyataannya memang bahan pelajaran gimul juga tidak terlalu banyak (jadi, sesalilah dirimu sendiri wahai dokter-dokter muda, he..). Sebagian dari kami memang ada yang tidak puas dengan hanya mendapat nilai huruf B (baik tanpa plus-plus ato plus ato polos), karena jelas targetannya adalah A (jelas sekali untuk kepuasan, kebanggaan, dan syukuran, hoho..). Dan saya sadar, bagian gimul ini adalah tempat idealnya mendulang nilai-nilai emas, mengingat amat berdedikasinya para preceptor dalam membimbing (kelompok saya dengan drg. Treesje,, the best ever!) dan mendidik baik dalam ilmu akademis maupun moral, teraturnya agenda dan jadwal, sistematisnya bahan2 pelajaran, serta kesempatan yang besar walaupun dalam waktu yang sempit dalam berinteraksi dengan pasien dan mempraktekkan skill.
Sebenarnya, ujiannya pun tidak jauh dari apa yang telah kami pelajari dan diterangkan oleh para preceptor serta dari kasus-kasus yang kami temukan pada pasien (tapi memang, ada kelompok yang beruntung mendapatkan kasus khusus untuk bisa dipelajari). Jadi, untuk persiapan ujian tak usahlah dibahas (maksudnya, terlalu sekali kalau tidak belajar). Jadi, coba sekarang saya telisik dari saat ujian hari H. Faktor paling mudah ditebak adalah stressor. Kenapa stressor itu timbul begitu saja pada saat ujian. 'Mentally ill'. Mungkin rasanya sudah lupa cara untuk menjawab ujian esai (15 soal) beranak-pinak yang notabennya selama bertahun-tahun kami selalu dijejali multiple choice. 1 station, 10 menit. Ada sekitar 13 station (kalau tidak salah ya, soalnya ada 1 station dengan 2 pertanyaan). Sebagai contoh, lihatlah tulisan saya yang penuh, kecil-kecil dan berantakan itu..beuh! Mana saya pake acara telat 3 menit datang ke ruang ujian pula! Padahal jadwal berangkat dari rumah si normal, tapi terlalu slow motion jalan ke poli nan jauah di mato, sambil masih asyik baca buku, dan tidak sadar waktu. 1 menit yang terbuang pun terasa berharga. (Ah, sudahlah kawan, itu hanya kebodohan nyata yang tidak menarik untuk disimak, heu..). Tapi saya salut, karena pada hari berikutnya, kertas jawaban ujian yang telah dinilai langsung setelah ujian berakhir itu dikembalikan kepada kami untuk kami koreksi. Preceptor memberi kesempatan kepada kami untuk protes apabila ada jawaban benar yang disalahkan ataupun kelalaian mereka mengkalkulasi nilai. Penerapan yang sangat adil dan transparan. (Like this! ^.~d)
Hmm, sekarang mari kita kembali ke hari ujian. Tepat setelah ujian berakhir, ocehan di sana-sini mulai terdengar seakan tidak puas dengan jawaban yang diberikan dan keragu-raguan yang tidak diragukan lagi. Fenomena biasa dari para pelajar selesai ujian. Kalau saya pribadi, secara ajaib, sontak terlupa akan hal-hal detail selama ujian, baik berupa pertanyaan ataupun jawaban. Tidak jarang hanya menatap udara kosong, efek glukosa yang menurun. Yah, butuh beberapa waktu untuk terbiasa dengan sensasinya. Jika ditanyakan satu per satu, sebagian dari kami masih tampak menyesali apa yang telah mereka usahakan. Tapi apapun hasilnya, yang bisa dilakukan (idealnya) adalah bersyukur atas apa yang didapat. Puas? oh, tentu saja tidak. Kita tidak puas dan tidak boleh puas dengan apapun yang kita kerjakan. Puas berarti selesai. Padahal masih banyak yang harus kita kejar dan masih dangkal ilmu yang kita dapat. Waktu 2 minggu tidak menjadikan kami sebagai seorang dokter yang berkompeten. Lagipula, saya percaya, nilai ujian bukanlah patokan untuk menghakimi seseorang brilian atau tidak, atau apakah dia sudah berjibaku atau tidak. Secara kasat, iya. Tapi masih ada faktor X yang pasti memainkan peranannya. "Knowledge is power, Behaviour is more, but Lucky is more than more (katanya, hehe..)". Jadi, lihatlah kemampuan seseorang dari kepiawaiannya dalam lapangan dunia nyata serta dalam keadaan kegawatdaruratan. Orang pintar itu belum tentu benar dalam melakukan tindakan, tapi orang benar dan cakap pastilah pintar. Hmm,,pengalaman itu adalah guru yang paling hebat. Lagipula masih ada belasan bagian lain yang menunggu kehadiran kami, dan akan kami manfaatkan kesempatan-kesempatan itu untuk uji skill dan pengetahuan. Alhamdulillah, gelora semangat belajar teman-teman turut mengipas-ngipasi letupan api di mata saya. Serius, tapi santai, menyenangkan, dan tidak ada yang saling menyikut mendahului (penting itu!). Well,,harapannya, untuk kelompok berikut yang akan belajar di bagian gimul, mereka akan bisa lebih baik dari kami (lumayan kan, bisa dapet kisi2.. :) Apalagi yang di bagian radiologi,hehe..)
Badewey, saya ingin menggambarkan nih apa yang ada di gimul dan apa yang saya secara pribadi dapatkan. Singkatnya, poli bedah mulut tempat kami bernaung ada di lantai 3, diatas poli anak dan klinik metadon (at least, itu yang selalu saya gambarkan kalo ditanya orang-orang --> butuh penelusuran lebih lanjut nih!). Di ruang serba guna tempat kami berkumpul, nyaman di satu ruang, sedikit nyaman di ruang lain (karena lebih minim tiupan AC) dengan pintu sekat yang membatasi diantaranya. Kami berkenalan dengan preceptor-preceptor yang berwibawa dan berkualitas dalam membimbing serta kepala perawat yang garing bodorannya (hehe..). Bisa dianggap ekslusif, karena kami dimanjakan dengan semua fasilitas yang sudah ada di sana : kantin, mushola, ruang pasien, ruang belajar, dan ruang santai (ruang santainya, yah di ruang belajar itu, hehe..). Janten weh, kita-kita disana terus sampai saatnya pulang. Malas kemana-mana. Jam pulangnya pun sekitar sebelum ashar (terkadang kalau kami kerajinan, setelah ashar baru pulang). Saya selalu menjadi yang pertama sampai di rumah dibanding orang-orang rumah yang lain dan nyampah dulu di depan tivi, hehe.. Logikanya, banyak waktu yang bisa dimanfaatkan untuk belajar, tapi gimul memang santai dan menyantaikan sih, jadi,, tidur wae.. :'D Tapi yang kusuka adalah, segala sesuatu yang berhubungan dengan gimul, berarti berhubungan dengan kakak saya. Saya sudah mempersiapkan diri sebelum masuk gimul, buku2 sakti punya gilang saya pinjam, D/ dan T/,, buku2 warisan angkatan tahun lalu juga ada. Jadi tidak ompong-ompong amat saat masuk, karena sudah dibaca-baca heula. Menarik sekali ilmunya dan mengasyikkan saat mendiskusikannya. Dan lagi, saat ke pasien juga dibimbing dan menemukan kasus-kasus yang baru pertama kali dilihat secara langsung. Jadi detail penyakitnya lebih mudah diingat. Sudah saya bilang bukan, pengalaman adalah guru yang paling hebat. Disamping itu uji keterampilan menggunakan alat-alat yang baru pertama kali digunakan (Aji aja sampai gemetar memeriksa isi mulut saya,, hee kenapa ji? aku ga gigit kok, haha..) Selain itu, nyata sekali saat masuk klinis, basic science yang telah kita dapat, tidak akan berguna jika tidak disertai perhatian yang lebih ke pasien. Empati dan keinginan untuk melayani harus ditumbuhkan, dengarkan keluhan mereka, pecahkan masalahnya dengan memberikan solusi terbaik yang menguntungkan kedua belah pihak. Bagaimana jika mereka tidak punya asuransi, mereka yang tidak mampu, atau prioritas apa yang harus didahulukan dan masih banyak lagi.
Lebih dari itu, satu hal yang saya garis bawahi dari kata-kata yang diucapkan oleh preceptor saya, adalah hal-hal yang berkenaan dengan hakikat sebagai seorang dokter dan pandangan saya tentangnya. Mimpi saya ke depannya. (daah, ini perkara panjang yang membutuhkan lembar khusus agar lebih menarik untuk diceritakan. So, di-skip dulu yaa!)
Jadi begitulah kawan, belajar di bagian gimul sangat berkesan, bahkan sampai kepala bagiannya tidak sungkan memberi selamat atas kelulusan kami dan menjabat tangan kami satu-persatu plus senyum ramah mengembang sebagai tanda penghargaannya. Dan, sama seperti tekad putnad, saya tidak akan menyia-nyiakan ilmu yang telah saya dapat disini, dan suatu saat insya Allah akan berguna jika kami masuk di bagian lain, spt OBGYN dan IPD yang ada hubungan dengan penyakit di gimul.. \*o*/ Ganbatte ne!!
anQ_me!

Lanjut membaca “It's Over.. But Not Over Yet..”  »»
Category:
¡¡
11/01/2009 12:46:00 PM | Posted in

[INTRO]

Sebenarnya teringat akan janji saya sendiri dan ucapan yang terlontar di hadapan teman-teman, bahwa ada keinginan untuk menuturkan pengalaman2 saya yang biasa-biasa saja (luar biasa, pada waktu-waktu tertentu) dalam bentuk suatu tulisan, jadi akhirnya saya tuangkan juga dalam ketikan-ketikan ini.


Lagipula malu juga si kalau sudah dihumbar-humbar, tp kalo ga jadi eaaaaaaa......(duarrr!!) sayang juga rasanya. Tau kenapa? Karena tujuannya, simpelnya, sebagai kenangan dan pelajaran. Akan menarik sekali 'kan, kalau kita membaca kembali tulisan-tulisan tentang sebagian yang kita alami. Ketawa ada, malu ada, seneng ada, marah ada, bahkan sedih sampai beberlinangan air mata pun ada.. heu, benar2 memalukan.. :")
Syahdan, saya suka menulis, tapi karena kecacatan dan kelalaian yang sebenarnya amat tidak penting dan bukan menjadi alasan juga, saya sering sekali menundanya. Lagi-lagi ditunda dan ditunda lagi. Padahal isi pikiran ini merupakan warisan yang berharga (sebagian tidak berharga, tentunya) untuk digoreskan dengan pena. Keinginannya sih hanya ditulis di buku atau di komputer sendiri biar ga perlu dibaca-baca orang. Lagi, kalau dipublikasikan pun akan terlalu mengundang perhatian (ari meni geer, aya kituh nu hoyong ngabaca? heu..) Yah, selama ditimbang-timbang, saya tak berniat untuk membuat suatu blog pribadi. Tapi setelah dipikir-pikir (lamaaa, karena lemot) kontentnya lah yang harus ditata. Jadi, menulis itu jangan asal dan jangan asal tulis. Makin hari, sesuai bertambahnya usia, harus makin matang. (Halah..)
Lebih dari itu, tidak sedikit tulisan-tulisan luar biasa yang sudah saya baca, feeling-nya megang banget (ehe..), dengan suntikan semangat baru saat menutup lembar terakhirnya. Sumbernya bermacam-macam, dari kertas kacang (yg separuh saya buang, separuh saya simpan -- oh bukan, bukan bekas robekan!), dari buku, dari status, dari dinding, dari blog, dari surat, dari inbox, dari skripsi (lho!), dll. Hmm, terkadang saya bisa jatuh cinta pada tulisan, bacaan, dan gaya penulisan. Aura tulisan tertentu akan terasa berbeda. Kl sudah baca (bacaan yang menyenangkan tentunya), saya bisa autis ceunah (hehe..).
Jadi, mereka yang menjadi penulis itu luar biasa lho! mereka hebat dengan karya-karya yang diakui tercatat. Tulisan itu tidak bersuara dan tidak menggetarkan gendang telinga, namun maknanya akan dalam jika dengan kesungguhan kita pahami dengan pikiran dan hati. Nah, walaupun selama kuliah di FK ada kata-kata ajaib dari dr. Ajat : "never read, never know.. ever read, forget" yang setelah dirasakan, memang banyak benarnya kalau dihubungkan dengan text book kedokteran yang dengan ketebalannya saja mampu menjadi alas kepala untuk tidur ataupun alas gluteal untuk duduk (saya pernah melakukannya, percayalah! Xp) hingga tidak tamat untuk dibaca. Tapi itu tidak selalu begitu, karena bagi saya, membaca akan selalu memperkaya khasanah ilmu, apalagi jika kita membagi pengetahuan kita yang berguna kepada orang lain, yang insya Allah akan tidak habis-habis ilmunya dan manfaatnya, hingga menambah buah amal kita di sana. Yang kita perlukan adalah : memanfaatkan anugerah daya ingat dan skill.
Intinya kawan, buku itu adalah jendela dunia, dan buku terhebat di dunia adalah Al-Qur'an (the manual book of our life). Jadi, berkaryalah dan selamat membaca..!! ^.~d
anQ_me!

Lanjut membaca “The FIRST..”  »»
Category:
¡¡