11/07/2009 04:12:00 PM | Posted in

[PART 1 : GIMUL]

Judul diatas amat menggambarkan keadaan saya saat ini : berakhir sudah putaran sebagai dokter muda di bagian gigi mulut, tapi masih ada bagian-bagian lain menanti di penghujung minggu depan (THT, bersiap!!).

Jadi begini kawan, hari ini, dimulai jam 8 pagi, kami ber-dua-belas mengikuti mini lecture di ruang serba guna poli klinik gigi dan mulut RSHS Bandung (sebenarnya saya heran sekali, kenapa masih ada mini lecture setelah ujian-ujian itu berakhir). Jadi,setelah 2 jam perkuliahan kecil itu, kami ber-dua-belas mempersiapkan diri menunggu judicium, deg-deg-an (baguslah, tanda kehidupan vital masih berlangsung!). Alhasil,alhamdulillah kami ber-dua-belas lulus semua dengan nilai yang bervariasi, tapi belum semua nilai diakumulasikan dengan nilai tata tertib, attitude, CST, dan sebagainya, dan detail nilai baru akan bisa kami ber-dua-belas lihat hari senin nanti di MIR (setelah di survey hari seninnya, ternyata hanya dusta, huh!).
Namun, ada satu fenomena di sini yang saya perhatikan, bahwa para preceptor sedikit kecewa dengan nilai tulis kami bila dibandingkan dengan kelompok sebelumnya, yaitu dari angkatan 2004 (ah, kelompok yang sekarang terlalu.. harusnya malu.. hehe..). Ceritanya, yang sekarang ada penurunan, paling tinggi hanya sampai 86,5 (congrat for Aji!) padahal sebelum kami ada yang sampai 90-an. Memang, patut disayangkan. Hmm, sebenarnya kalau dipikir-pikir, kami ber-dua-belas ini kan baru pertama kali masuk bagian dan kami hanya punya sedikit pengetahuan tentang segala sesuatu yang berlangsung selama belajar kurang dari 2 minggu ini (waktu yang singkat,eh?). Mengingat ini adalah ujian pada ronde pertama sebagai dokter muda di RSHS dan hasilnya secara umum dapat dibilang kurang memuaskan, padahal kami tahu, kami bisa lebih dari itu. Sebenarnya (menurut hemat saya), alasan-alasan tersebut di atas tidak kuat untuk tetap dipertahankan, karena pada kenyataannya memang bahan pelajaran gimul juga tidak terlalu banyak (jadi, sesalilah dirimu sendiri wahai dokter-dokter muda, he..). Sebagian dari kami memang ada yang tidak puas dengan hanya mendapat nilai huruf B (baik tanpa plus-plus ato plus ato polos), karena jelas targetannya adalah A (jelas sekali untuk kepuasan, kebanggaan, dan syukuran, hoho..). Dan saya sadar, bagian gimul ini adalah tempat idealnya mendulang nilai-nilai emas, mengingat amat berdedikasinya para preceptor dalam membimbing (kelompok saya dengan drg. Treesje,, the best ever!) dan mendidik baik dalam ilmu akademis maupun moral, teraturnya agenda dan jadwal, sistematisnya bahan2 pelajaran, serta kesempatan yang besar walaupun dalam waktu yang sempit dalam berinteraksi dengan pasien dan mempraktekkan skill.
Sebenarnya, ujiannya pun tidak jauh dari apa yang telah kami pelajari dan diterangkan oleh para preceptor serta dari kasus-kasus yang kami temukan pada pasien (tapi memang, ada kelompok yang beruntung mendapatkan kasus khusus untuk bisa dipelajari). Jadi, untuk persiapan ujian tak usahlah dibahas (maksudnya, terlalu sekali kalau tidak belajar). Jadi, coba sekarang saya telisik dari saat ujian hari H. Faktor paling mudah ditebak adalah stressor. Kenapa stressor itu timbul begitu saja pada saat ujian. 'Mentally ill'. Mungkin rasanya sudah lupa cara untuk menjawab ujian esai (15 soal) beranak-pinak yang notabennya selama bertahun-tahun kami selalu dijejali multiple choice. 1 station, 10 menit. Ada sekitar 13 station (kalau tidak salah ya, soalnya ada 1 station dengan 2 pertanyaan). Sebagai contoh, lihatlah tulisan saya yang penuh, kecil-kecil dan berantakan itu..beuh! Mana saya pake acara telat 3 menit datang ke ruang ujian pula! Padahal jadwal berangkat dari rumah si normal, tapi terlalu slow motion jalan ke poli nan jauah di mato, sambil masih asyik baca buku, dan tidak sadar waktu. 1 menit yang terbuang pun terasa berharga. (Ah, sudahlah kawan, itu hanya kebodohan nyata yang tidak menarik untuk disimak, heu..). Tapi saya salut, karena pada hari berikutnya, kertas jawaban ujian yang telah dinilai langsung setelah ujian berakhir itu dikembalikan kepada kami untuk kami koreksi. Preceptor memberi kesempatan kepada kami untuk protes apabila ada jawaban benar yang disalahkan ataupun kelalaian mereka mengkalkulasi nilai. Penerapan yang sangat adil dan transparan. (Like this! ^.~d)
Hmm, sekarang mari kita kembali ke hari ujian. Tepat setelah ujian berakhir, ocehan di sana-sini mulai terdengar seakan tidak puas dengan jawaban yang diberikan dan keragu-raguan yang tidak diragukan lagi. Fenomena biasa dari para pelajar selesai ujian. Kalau saya pribadi, secara ajaib, sontak terlupa akan hal-hal detail selama ujian, baik berupa pertanyaan ataupun jawaban. Tidak jarang hanya menatap udara kosong, efek glukosa yang menurun. Yah, butuh beberapa waktu untuk terbiasa dengan sensasinya. Jika ditanyakan satu per satu, sebagian dari kami masih tampak menyesali apa yang telah mereka usahakan. Tapi apapun hasilnya, yang bisa dilakukan (idealnya) adalah bersyukur atas apa yang didapat. Puas? oh, tentu saja tidak. Kita tidak puas dan tidak boleh puas dengan apapun yang kita kerjakan. Puas berarti selesai. Padahal masih banyak yang harus kita kejar dan masih dangkal ilmu yang kita dapat. Waktu 2 minggu tidak menjadikan kami sebagai seorang dokter yang berkompeten. Lagipula, saya percaya, nilai ujian bukanlah patokan untuk menghakimi seseorang brilian atau tidak, atau apakah dia sudah berjibaku atau tidak. Secara kasat, iya. Tapi masih ada faktor X yang pasti memainkan peranannya. "Knowledge is power, Behaviour is more, but Lucky is more than more (katanya, hehe..)". Jadi, lihatlah kemampuan seseorang dari kepiawaiannya dalam lapangan dunia nyata serta dalam keadaan kegawatdaruratan. Orang pintar itu belum tentu benar dalam melakukan tindakan, tapi orang benar dan cakap pastilah pintar. Hmm,,pengalaman itu adalah guru yang paling hebat. Lagipula masih ada belasan bagian lain yang menunggu kehadiran kami, dan akan kami manfaatkan kesempatan-kesempatan itu untuk uji skill dan pengetahuan. Alhamdulillah, gelora semangat belajar teman-teman turut mengipas-ngipasi letupan api di mata saya. Serius, tapi santai, menyenangkan, dan tidak ada yang saling menyikut mendahului (penting itu!). Well,,harapannya, untuk kelompok berikut yang akan belajar di bagian gimul, mereka akan bisa lebih baik dari kami (lumayan kan, bisa dapet kisi2.. :) Apalagi yang di bagian radiologi,hehe..)
Badewey, saya ingin menggambarkan nih apa yang ada di gimul dan apa yang saya secara pribadi dapatkan. Singkatnya, poli bedah mulut tempat kami bernaung ada di lantai 3, diatas poli anak dan klinik metadon (at least, itu yang selalu saya gambarkan kalo ditanya orang-orang --> butuh penelusuran lebih lanjut nih!). Di ruang serba guna tempat kami berkumpul, nyaman di satu ruang, sedikit nyaman di ruang lain (karena lebih minim tiupan AC) dengan pintu sekat yang membatasi diantaranya. Kami berkenalan dengan preceptor-preceptor yang berwibawa dan berkualitas dalam membimbing serta kepala perawat yang garing bodorannya (hehe..). Bisa dianggap ekslusif, karena kami dimanjakan dengan semua fasilitas yang sudah ada di sana : kantin, mushola, ruang pasien, ruang belajar, dan ruang santai (ruang santainya, yah di ruang belajar itu, hehe..). Janten weh, kita-kita disana terus sampai saatnya pulang. Malas kemana-mana. Jam pulangnya pun sekitar sebelum ashar (terkadang kalau kami kerajinan, setelah ashar baru pulang). Saya selalu menjadi yang pertama sampai di rumah dibanding orang-orang rumah yang lain dan nyampah dulu di depan tivi, hehe.. Logikanya, banyak waktu yang bisa dimanfaatkan untuk belajar, tapi gimul memang santai dan menyantaikan sih, jadi,, tidur wae.. :'D Tapi yang kusuka adalah, segala sesuatu yang berhubungan dengan gimul, berarti berhubungan dengan kakak saya. Saya sudah mempersiapkan diri sebelum masuk gimul, buku2 sakti punya gilang saya pinjam, D/ dan T/,, buku2 warisan angkatan tahun lalu juga ada. Jadi tidak ompong-ompong amat saat masuk, karena sudah dibaca-baca heula. Menarik sekali ilmunya dan mengasyikkan saat mendiskusikannya. Dan lagi, saat ke pasien juga dibimbing dan menemukan kasus-kasus yang baru pertama kali dilihat secara langsung. Jadi detail penyakitnya lebih mudah diingat. Sudah saya bilang bukan, pengalaman adalah guru yang paling hebat. Disamping itu uji keterampilan menggunakan alat-alat yang baru pertama kali digunakan (Aji aja sampai gemetar memeriksa isi mulut saya,, hee kenapa ji? aku ga gigit kok, haha..) Selain itu, nyata sekali saat masuk klinis, basic science yang telah kita dapat, tidak akan berguna jika tidak disertai perhatian yang lebih ke pasien. Empati dan keinginan untuk melayani harus ditumbuhkan, dengarkan keluhan mereka, pecahkan masalahnya dengan memberikan solusi terbaik yang menguntungkan kedua belah pihak. Bagaimana jika mereka tidak punya asuransi, mereka yang tidak mampu, atau prioritas apa yang harus didahulukan dan masih banyak lagi.
Lebih dari itu, satu hal yang saya garis bawahi dari kata-kata yang diucapkan oleh preceptor saya, adalah hal-hal yang berkenaan dengan hakikat sebagai seorang dokter dan pandangan saya tentangnya. Mimpi saya ke depannya. (daah, ini perkara panjang yang membutuhkan lembar khusus agar lebih menarik untuk diceritakan. So, di-skip dulu yaa!)
Jadi begitulah kawan, belajar di bagian gimul sangat berkesan, bahkan sampai kepala bagiannya tidak sungkan memberi selamat atas kelulusan kami dan menjabat tangan kami satu-persatu plus senyum ramah mengembang sebagai tanda penghargaannya. Dan, sama seperti tekad putnad, saya tidak akan menyia-nyiakan ilmu yang telah saya dapat disini, dan suatu saat insya Allah akan berguna jika kami masuk di bagian lain, spt OBGYN dan IPD yang ada hubungan dengan penyakit di gimul.. \*o*/ Ganbatte ne!!
anQ_me!

Lanjut membaca “It's Over.. But Not Over Yet..”  »»
Category:
¡¡
11/01/2009 12:46:00 PM | Posted in

[INTRO]

Sebenarnya teringat akan janji saya sendiri dan ucapan yang terlontar di hadapan teman-teman, bahwa ada keinginan untuk menuturkan pengalaman2 saya yang biasa-biasa saja (luar biasa, pada waktu-waktu tertentu) dalam bentuk suatu tulisan, jadi akhirnya saya tuangkan juga dalam ketikan-ketikan ini.


Lagipula malu juga si kalau sudah dihumbar-humbar, tp kalo ga jadi eaaaaaaa......(duarrr!!) sayang juga rasanya. Tau kenapa? Karena tujuannya, simpelnya, sebagai kenangan dan pelajaran. Akan menarik sekali 'kan, kalau kita membaca kembali tulisan-tulisan tentang sebagian yang kita alami. Ketawa ada, malu ada, seneng ada, marah ada, bahkan sedih sampai beberlinangan air mata pun ada.. heu, benar2 memalukan.. :")
Syahdan, saya suka menulis, tapi karena kecacatan dan kelalaian yang sebenarnya amat tidak penting dan bukan menjadi alasan juga, saya sering sekali menundanya. Lagi-lagi ditunda dan ditunda lagi. Padahal isi pikiran ini merupakan warisan yang berharga (sebagian tidak berharga, tentunya) untuk digoreskan dengan pena. Keinginannya sih hanya ditulis di buku atau di komputer sendiri biar ga perlu dibaca-baca orang. Lagi, kalau dipublikasikan pun akan terlalu mengundang perhatian (ari meni geer, aya kituh nu hoyong ngabaca? heu..) Yah, selama ditimbang-timbang, saya tak berniat untuk membuat suatu blog pribadi. Tapi setelah dipikir-pikir (lamaaa, karena lemot) kontentnya lah yang harus ditata. Jadi, menulis itu jangan asal dan jangan asal tulis. Makin hari, sesuai bertambahnya usia, harus makin matang. (Halah..)
Lebih dari itu, tidak sedikit tulisan-tulisan luar biasa yang sudah saya baca, feeling-nya megang banget (ehe..), dengan suntikan semangat baru saat menutup lembar terakhirnya. Sumbernya bermacam-macam, dari kertas kacang (yg separuh saya buang, separuh saya simpan -- oh bukan, bukan bekas robekan!), dari buku, dari status, dari dinding, dari blog, dari surat, dari inbox, dari skripsi (lho!), dll. Hmm, terkadang saya bisa jatuh cinta pada tulisan, bacaan, dan gaya penulisan. Aura tulisan tertentu akan terasa berbeda. Kl sudah baca (bacaan yang menyenangkan tentunya), saya bisa autis ceunah (hehe..).
Jadi, mereka yang menjadi penulis itu luar biasa lho! mereka hebat dengan karya-karya yang diakui tercatat. Tulisan itu tidak bersuara dan tidak menggetarkan gendang telinga, namun maknanya akan dalam jika dengan kesungguhan kita pahami dengan pikiran dan hati. Nah, walaupun selama kuliah di FK ada kata-kata ajaib dari dr. Ajat : "never read, never know.. ever read, forget" yang setelah dirasakan, memang banyak benarnya kalau dihubungkan dengan text book kedokteran yang dengan ketebalannya saja mampu menjadi alas kepala untuk tidur ataupun alas gluteal untuk duduk (saya pernah melakukannya, percayalah! Xp) hingga tidak tamat untuk dibaca. Tapi itu tidak selalu begitu, karena bagi saya, membaca akan selalu memperkaya khasanah ilmu, apalagi jika kita membagi pengetahuan kita yang berguna kepada orang lain, yang insya Allah akan tidak habis-habis ilmunya dan manfaatnya, hingga menambah buah amal kita di sana. Yang kita perlukan adalah : memanfaatkan anugerah daya ingat dan skill.
Intinya kawan, buku itu adalah jendela dunia, dan buku terhebat di dunia adalah Al-Qur'an (the manual book of our life). Jadi, berkaryalah dan selamat membaca..!! ^.~d
anQ_me!

Lanjut membaca “The FIRST..”  »»
Category:
¡¡